Senin, 02 November 2009

FILSAFAT ILMU PENDIDIKAN

I. Ayat-ayat tentang ilmu.
Di dalam Al-Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan bukti-bukti mengenai hal keutamaan ilmu pengetahuan. Diantaranya.
1. Surat Ali ‘Imran Ayat 18
Artinya : “Allah sudah menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Dia sendiri, juga malaikat dan orang-orang yang berilmu pengetahuan menyaksikan yang sedemikian itu, bahkan Allah itu Maha Berdiri Sendiri dengan adil”.
2. Surat Mujadalah Ayat 11
Artinya : “Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari golonganmu dan juga orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan hingga beberapa derajat”.
3. Surat Zumar Ayat 9
Artinya : Katakanlah : “Adakah sama orang-orang yang berilmu pengetahuan dan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan”.
4. Surat Fathir Ayat 28
Artinya : “Hanyasanya yang takut kepada Allah dari golongan hamba-hambaNya itu adalah orang-orang yang berilmu pengetahuan”
5. Surat Nisa’ Ayat 83
Artinya : “Andaikata mereka mengembalikan berita itu kepada Rasul, juga kepada orang-orang yang memegang pemerintahan, pastilah berita itu sudah dimengerti kenyataannya oleh orang-orang yang benar-benar meneliti hal yang sedemikian tadi dari golongan mereka itu sendiri”.
Ayat-ayat yang berhubungan dengan keutamaan belajar itu, diantaranya ialah firman Allah Ta’ala.
6. Surat Taubat Ayat 112
Artinya : “Mengapa tidak ada sekelompok pun dari setiap golongan mereka itu yang berangkat untuk mencari pengertian dalam ilmu keagamaan”.
7. Surat Nahl Ayat 43
Artinya : Maka tanyalah para ahli ilmu pengetahuan, apabila kamu semua tidak mengerti”.
Ayat-ayat yang bersangkutan dengan keutamaan mengajar itu ialah firman Allah ‘azza wa jalla.
8. Surat Taubah Ayat 122
Artinya : “Hendaklah mereka itu memberi peringatan kepada kaumnya (setelah belajar ilmu keagamaan), yakni diwaktu mereka telah kembali ke tempat kaumnya tadi. Barangkali kaumnya itu menjadi hati-hati karenanya”.
9. Surat Al ‘Imran Ayat 187
Artinya : “Dan diwaktu Allah telah mengambil janji orang-orang yang diberi kitab suci, yaitu : Haruslah kamu semua menerang-nerangkan itu kepada seluruh manusia dan jangan kamu menyimpan-nyimpan isinya”.
10. Surat Baqarah Ayat 146
Artinya : “Ada sebagian golongan dari mereka yang menyembunyikan kebenaran, padahal mereka itu mengetahuinya”.

II. Definisi Filsafat
1. Plato (427 SM – 347 SM) seorang filosuf Yunani yang termasyur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan : Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
2. Aristoteles (384 SM – 322 SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorikan, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
3. Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43 SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan : Filsafat adalah pengetahuan tentag sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
4. Al-Farabi (wafat 950 M), filosuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat sebenarnya.
5. Immanuel Kant (1724 – 1804 SM), yang sering disebut raksasa piker Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
- Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
- Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
- Sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)
6. Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar Psikologi UI, menyimpulkan : Filsafat adalah suatu ikhtisar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
7. Drs. H. Hasbullah Bakry merumuskan, Ilmu filsafat adalah ilmu yag menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
8. Konsep Prancis Bacon, filsafat merupakan induk agung dari ilmu-ilmu dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.
9. Konsep John Dewey, sebagai tokoh pragmatism, berpendapat bahwa filsafat haruslah dipandang sebagai suatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia secara terus-menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi yang membentuk budi manusia terhadap kecenderungan-kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru dan tidak sejalan dengan wewenang yang diakui. Tegasnya filsafat sebagai suatu alat untuk membuat penyesuaian-penyesuaian di antara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan.
10. Konsep Rene Descartes, Filsafat merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.

III. Definisi Ilmu
1. Mohammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum sebab-akibat dalam suatu golongan masalah yang sama sifatnya, baik menurut kedudukannya (apabila dilihat dari luar), maupun menurut hubungannya (jika dilihat dari dalam).
2. Harsojo, Guru Besar Antropologi, Universitas Pajajaran, definisi ilmu dapat dimaknai sebagai akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan ---Suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris.Ilmu dapat diamati panca indera manusia --- Suatu cara menganalisis yang mengizinkan kepada para ahlinya untuk menyatakan -suatu proposisi dalam bentuk: "jika,...maka..."
3. Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan keempatnya serentak.
4. Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.
5. Ashley Montagu, Guru Besar Antropolog di Rutgers University menyimpilkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu system yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
6. Afanasyef, seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, kategori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya diuji dengan penalaran praktis.
7. Prof. Dr. C.A. Van Peursen, mengatakan definisi ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.


DAFTAR PUSTAKA
Alghazali, Ihya Ulumuddin Imam. 1994. Bimbingan untuk Mencapai Tingkat Mu’min. Bandung: Penerbit CV Diponegoro.
Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Penerbit Raja Grasindo Persada.
Syadali, Ahmad dan Mudzakir. 1997. Filsafat Ilmu. Bandung: Penerbit Pustaka Setia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar